Jumat, 05 Januari 2018

To Travel

 
Traveling memang merupakan salah satu kegiatan yang sangat menyenangkan, terutama bila dilakukan bersama pasangan hidup dan keluarga. Pada dasarnya traveling bukan hanya untuk menghambur-hamburkan uang, ajang pamer-pameran atau hanya untuk mengisi waktu libur, namun sejatinya ketika kita melakukan traveling ada banyak hikmah yang bisa diambil dari setiap perjalanan yang dilakukan. 

Bahkan ternyata traveling merupakan salah satu perintah Allah yang ditujukan kepada umat-Nya. Bagaimana bisa dan seperti apakah traveling yang dimaksud ? berikut ulasan selengkapnya.

Rihlah atau traveling dalam kacamata Islam sangat dianjurkan dan merupakan bagian penting dari proses pembelajaran. Perintah untuk melakukannya secara tegas tercantum dalam Al-Qur’an. Bahkan, tidak sedikit ayat dalam Al-Qur’an yang menginspirasi para pendahulu kita untuk melakukan perjalanan jauh. Berikut diantaranya :

“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah disegala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. 67:15)

“Setelah didirikan shalat (Jum’at) maka bertebaranlah kamu di muka Bumi dan carilah sebagian dari karunia Allah. Dan perbanyaklah berdzikir kepada Allah agar kamu beruntung. “ (QS. 62:10)

Kedua ayat ini menjadi bukti bahwa Allah memerintahkan umatnya untuk menjelajahi Bumi dan mendorong kita untuk berusaha semaksimal mungkin dalam bekerja, sebab Allah tidak akan membatasi kita dalam mencari penghasilan.

Traveling tidak hanya terbatas pada pengertian sempit seperti tamasya atau kunjungan kerja, namun juga meliputi segala gerak atau langkah kita dari satu tempat ke tempat lain yang dibarengi dengan niat ibadah. 

Pada masa awal penyebaran Islam, rihlah merupakan salah satu anasir yang menyebabkan Islam tersebar luas. Seperti makam Saad bin Abi Waqqas yang terdapat di Cina, merupakan salah satu contoh giatnya para sahabat bepergian untuk menyebarkan Islam.

Selain itu, dalam pembuatan kitab “Sahih Bukhari” Imam Bukhari kerap kali melakukan perjalanan yang sangat jauh hanya untuk memverifikasi satu hadist pendek. Padahal dalam kitab tersebut memuat ribuan hadist. Sehingga tidak terbayangkan berapa orang yang telah ia jumpai dan seberapa jauh perjalanan yang ia lakukan. Karena sebab itulah yang akhirnya membuat Imam Khatib Al Baghdadi, menyusun kitab yang khusus membahas perjalanan hadist-hadist tersebut, yang dikenal dengan Al Rihlah Fii Thalabi Hadist atau perjalanan mencari hadist.

Bahkan, jauh sebelum itu semua Rasulullah juga telah melakukan berbagai perjalanan jauh untuk berdagang. Hal-hal inilah yang menjadi bukti bahwa seorang Muslim sudah seharusnya memiliki wawasan global. 

#copas
#repath

Tidak ada komentar:

Posting Komentar