Traveling memang merupakan salah satu kegiatan yang sangat
menyenangkan, terutama bila dilakukan bersama pasangan hidup dan
keluarga. Pada dasarnya traveling bukan hanya untuk menghambur-hamburkan
uang, ajang pamer-pameran atau hanya untuk mengisi waktu libur, namun
sejatinya ketika kita melakukan traveling ada banyak hikmah yang bisa
diambil dari setiap perjalanan yang dilakukan.
Bahkan
ternyata traveling merupakan salah satu perintah Allah yang ditujukan
kepada umat-Nya. Bagaimana bisa dan seperti apakah traveling yang
dimaksud ? berikut ulasan selengkapnya.
Rihlah
atau traveling dalam kacamata Islam sangat dianjurkan dan merupakan
bagian penting dari proses pembelajaran. Perintah untuk melakukannya
secara tegas tercantum dalam Al-Qur’an. Bahkan, tidak sedikit ayat dalam
Al-Qur’an yang menginspirasi para pendahulu kita untuk melakukan
perjalanan jauh. Berikut diantaranya :
“Dialah
yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah disegala
penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya
kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. 67:15)
“Setelah
didirikan shalat (Jum’at) maka bertebaranlah kamu di muka Bumi dan
carilah sebagian dari karunia Allah. Dan perbanyaklah berdzikir kepada
Allah agar kamu beruntung. “ (QS. 62:10)
Kedua
ayat ini menjadi bukti bahwa Allah memerintahkan umatnya untuk
menjelajahi Bumi dan mendorong kita untuk berusaha semaksimal mungkin
dalam bekerja, sebab Allah tidak akan membatasi kita dalam mencari
penghasilan.
Traveling tidak hanya terbatas
pada pengertian sempit seperti tamasya atau kunjungan kerja, namun juga
meliputi segala gerak atau langkah kita dari satu tempat ke tempat lain
yang dibarengi dengan niat ibadah.
Pada masa
awal penyebaran Islam, rihlah merupakan salah satu anasir yang
menyebabkan Islam tersebar luas. Seperti makam Saad bin Abi Waqqas yang
terdapat di Cina, merupakan salah satu contoh giatnya para sahabat
bepergian untuk menyebarkan Islam.
Selain itu,
dalam pembuatan kitab “Sahih Bukhari” Imam Bukhari kerap kali melakukan
perjalanan yang sangat jauh hanya untuk memverifikasi satu hadist
pendek. Padahal dalam kitab tersebut memuat ribuan hadist. Sehingga
tidak terbayangkan berapa orang yang telah ia jumpai dan seberapa jauh
perjalanan yang ia lakukan. Karena sebab itulah yang akhirnya membuat
Imam Khatib Al Baghdadi, menyusun kitab yang khusus membahas perjalanan
hadist-hadist tersebut, yang dikenal dengan Al Rihlah Fii Thalabi Hadist
atau perjalanan mencari hadist.
Bahkan, jauh
sebelum itu semua Rasulullah juga telah melakukan berbagai perjalanan
jauh untuk berdagang. Hal-hal inilah yang menjadi bukti bahwa seorang
Muslim sudah seharusnya memiliki wawasan global.
#copas
#repath
Tidak ada komentar:
Posting Komentar